September 22, 2010

Arsenal 4 – 1 Tottenham (Carling Cup), the war of bragging right

Category: Review — henry4life @ 10:16 am

A really interesting draw, mempertemukan Arsenal dengan Spurs di 3rd round of carling cup. Di awal musim, Wenger memberi statement dia akan tetap menerapkan youth policynya untuk Carling Cup. Namun, menghadapi fierce rival di 3rd round of carling cup, cukup membuat wenger to have a second thought. Beberapa hari sebelum pertandingan ini, Wenger pun memilih bermain aman dengan berkomentar dia akan menurunkan realistically winnable team, bukan hanya sekedar menurunkan pemain muda. Hasilnya, perpaduan pemain senior dan youngster diturunkan Wenger.

Fabianski-Eboue-Djourou-Koscielny-Gibbs-Wilshere-Denilson-Rosicky-Nasri-Vela-Lansbury.

Spurs sendiri tidak menurunkan tim intinya. Bermain dengan pakem 4-5-1 tanpa menurunkan lini tengah terkuat. Salah satunya, Sandro pemain Spurs yang dibeli walaupun Redknapp tidak pernah melihat dia main secara langsung di tim sebelumnya.

Melihat perbandingan 2 starting lineup, Wenger jelas menurunkan winnable team. Better yet, mungkin jika Rosicky di ganti dengan JET, Sunu atau Watt, I think Arsenal can still beat Spurs. Kelemahan terbesar arsenal ada di 3 gelandang tengah. Nasri-Wilshere-Denilson semuanya mempunya fisik yang tergolong kurang kuat. Permainan bola atas dan keras dari tim lawan akan berakibat fatal untuk Arsenal. Luckily, Spurs didn’t play with a REAL playmaker. Spurs cenderung bermain menyerang melalui pace dan speed winger mereka, Bentley dan Dos Santos. Gibbs was one of the best players of the match, Dos Santos yang bermain impresif di piala dunia, terlihat tidak ada apa-apanya saat dijaga Gibbs. Membuat Spurs tidak punya pilihan lain selain menyerang melalui Bentley. Eboue had a decent game. Lebih jarang terlihat menyerang di babak pertama, tapi masih beberapa kali kecolongan. Beruntung Bentley terlalu sering memikirkan emosinya untuk mencetak gol ke gawang arsenal. Hasilnya beberapa kali Bentley memaksakan tendangan langsung yang malah jadi melenceng jauh. So that leaves Pavlyuchenko with no real support. Satu-satunya peluang paling berbahaya dari Pavlyuchenko adalah saat Spurs melakukan counter attack dan Djourou dengan mudahnya berhasil di lewati. Djourou had a really poor game. Selalu kalah di one-on-one dan headingnya pun tidak terlalu berguna karena we’ve got Koscielny now. Koscielny sendiri kembali membuktikan kapasitasnya sebagai bek inti arsenal. His first derby match di white hart lane, where he is, technically, the only regular defender starter from the first team and he’s done it really well.

Offensively, ini cukup frustrating. Quick early goal, tapi selebihnya Arsenal cukup kebingungan sendiri di depan. Vela yang mencetak 3 gol on his previous 2 appearances, jelas menjadi tumpuan Arsenal di lini depan. Tapi Vela justru bermain cukup mengecewakan. Tanpa kebebasan untuk melakukan rotasi dengan 2 partnernya, Vela hampir tidak berguna sama sekali di depan. Selain bermain agak turun untuk melakukan wall pass, Vela tidak melakukan kontribusi yang berarti. When he played with Arshavin or Chamakh, Vela bisa dengan mudah mencari ruang karena Arshavin dan Chamakh bisa menjalani rotating offense dengan sangat baik. Di Carling kemarin, Lansbury, who actually had an okay game (and congratz for the goal by the way), rigidly bermain di posisi penyerang kanan, whereas when Arshavin, Chamakh atau Nasri bermain di posisi penyerang kanan, mereka akan occasionally menjadi striker tengah atau penyerang kiri. You can’t really blame Lansbury, it was his first derby match after all. Pilihan Vela tinggal di penyerang kiri. Namun sayangnya posisi penyerang kiri justru lebih berantakan. You can’t tell who’s playing there. Was it Rosicky or Nasri? Dan yang lebih sering keliatan justru Gibbs berada di wide left flank, where Rosicky dan Nasri justru ada di tengah.

Wilshere was the man of the first half. Berumur 18 tahun, melawan fierce rival, dan menjadi main playmaker when there was Rosicky, Nasri dan Denilson, was a huge responsibility for him. But, he’s done it flawlessly. Drop deep saat di serang, menjemput bola saat counter attack, bermain keras, delivered accurate passes. Wilshere was everything that you want in a footballer, 18 year old footballer anyway. Better yet, dia bermain penuh 120 menit, not to mention di first 90 minutes, he’s been tackled harshly at least 3 times.

Second half was actually owned by Spurs. Fortunately, they didn’t really take their chances. Keane was the main threat. Pavlyuchenko jadi bisa bermain lebih baik dengan pakem 2 striker. Ditambah Djourou yang masih bermain buruk seperti di babak pertama, beberapa kali Arsenal kecolongan di belakang. Walaupun gol Keane berbau offside, namun beberapa peluang Spurs lainnya terjadi karena kesalahan arsenal. Denilson and Djourou were really poor in defending. Djourou sering kecolongan dan Denilson cenderung terlihat malas untuk turun membantu defense. Spurs bisa membalikkan keadaan andai saja tendangan Keane dari jarak 2 meter dari gawang tidak membentur mistar gawang. Selebihnya pretty much the same with the first half, except that Spurs had more possession in the second half.

Then, Wenger broke his “rule”. Arshavin and Chamakh were brought in for Vela and Rosicky who had a poor second half. Skor tetap bertahan 1-1, namun Arsenal terlihat lebih variatif saat menyerang. Nasri terlihat bergerak lebih bebas, which was at the right time karena Wilshere sudah terlihat kelelahan karena kontribusinya di babak pertama.

ET First Half. Quick 2 goals from penalty spot. Yes, it was “only” a penalty. But remembering a missed penalty actually costs arsenal 2 points last weekend, gol dari penalty jadi semakin valuable. Also, proses terjadinya penalty adalah faktor penting untuk kemenangan Arsenal. Sepanjang 90 menit, tanpa pergerakan rotasi di lini depan, Arsenal hampir tidak pernah melakukan straight through pass ke kotak penalty seperti yang sering kali di lakukan Fabregas. Nasri, Rosicky dan Vela cenderung melakukan operan ke samping untuk menjaga possession. Arshavin didn’t care about possession. He only thinks about scoring goals, and that’s exactly what he did for Arsenal to get 2 penalties. Nasri yang cenderung bermain hati-hati sepanjang 90 menit, kali ini berani melakukan tusukan ke dalam kotak penalty. Arshavin did what Arsenal was lacked on the first 90 minutes. “Fabregas pass”. Hasilnya? Nasri dan Chamakh harus di jatuhkan di kotak penalty. Game was already over when arsenal was up by 2 goals. Namun Arshavin masih ingin “bermain” dengan Spurs. He scored an easy goal. What a big contribution from him.

So, Wilshere was the savior on the first half, luck played part on the second half, and Arshavin killed the game at the extra time. Match yang cukup berimbang sampai Arshavin masuk. From then, it was a total mismatch.

September 15, 2010

Arsenal 6 – 0 Braga, flawless display from Arsenal

Category: Review — henry4life @ 5:06 pm

Arsenal’s starting line up

Almunia-Sagna-Squillaci-Koscielny-Clichy-Song-Wilshere-Fabregas-Nasri-Arshavin-Chamakh

Interesting selection dari Arsene Wenger. Di atas kertas, mungkin ini bukan line up terbaik Arsenal, tapi 11 pemain ini benar-benar bermain sebagai suatu kesatuan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama Arsenal bermain tanpa cacat dari belakang sampai depan.

Braga dengan sejumlah pemain Brazilnya, diperkirakan akan bermain defense dan mencuri kesempatan counter attack dengan pace pemain-pemain Brazil mereka. Terbukti di babak pertama ada beberapa kali Braga mengcounter arsenal dengan long pass to the right flank. Sagna dan Clichy bermain dengan baik offensively dan defensively. Mungkin sedikit terpacu dengan penampilan luar biasa Eboue-Gibbs saat Arsenal melawan Bolton weekend lalu. Sagna dan Clichy hampir selalu memenangi duel one on one dengan pemain Braga dan consistently membantu penyerangan. Duet Koscielny-Squillaci juga bermain tanpa cacat. Untuk beberapa fans Arsenal yang menilai Koscielny tidak punya fisik yang cukup untuk bermain di Arsenal, bisa melihat beberapa kali Koscielny made himself looked big to the opponents. Squillaci menunjukkan pengalamannya dengan bermain sabar dan efektif di belakang. On top of those, Koscielny-Squillaci were very strong in the air. Vermaelen really have a serious competition at the back. Di tambah lagi, dengan menggunakan 4 bek prancis, logikanya komunikasi di belakang akan lebih lancar. Mungkin Laurent Blanc harus menerapkan back four ini di timnas prancis.

Pemilihan Wilshere over Denilson cukup menarik karena dengan asumsi permainan ‘parkir bus’ Braga, menjaga possession akan menjadi krusial. Denilson is a better passer than Wilshere. The logic is as simple as that. Unfortunately, Denilson mungkin dinilai masih belum terlalu fit untuk menjadi starter. Blessing in disguise, Wilshere menunjukkan permainan terbaiknya, by far. Seeing Wilshere today is like seeing Diaby with a (lot) better passing instinct. Wilshere melakukan drive saat ada celah dan melakukan effective pass saat pemain lain berada di posisi yang lebih baik, not to mention that his passes were quite accurate. Satu yang bahaya, Wilshere lebih sering maju dibanding Denilson, which gave a lot of space for the opponent to do a quick counter attack. Luckily, Braga tidak terlihat sedang bermain dalam kondisi terbaik mereka. So, Denilson is a safer choice and Wilshere is a risky choice, but on the good day, Wilshere could be a match winner for Arsenal.

Song tidak terlihat bermain dalam kondisi terbaiknya, but that’s good enough untuk lawan sekaliber Braga. Satu yang mungkin tidak terlalu di sadari, Song tend to stop Braga’s counter with his presence. Beberapa kali pemain Braga menunda umpannya begitu Song mendekat, yang berarti memberi waktu beberapa detik untuk pemain arsenal kembali ke posisi bertahan.

Pergerakan Henry-Pires dari Chamakh-Arshavin saat melawan Bolton, kali ini disempurnakan dengan kehadiran Nasri. Arshavin-Chamakh-Nasri were really comfortable switching up position. Arshavin jadi sering bermain di posisi sentral dan Chamakh lebih sering terlihat melebar. Nasri was all over the place, in a good way of course. Chamakh kembali menjadi elemen penting di depan. Musim lalu kita sudah sering melihat kerja sama Arshavin-RvP-Nasri yang mungkin merupakan trisula terbaik arsenal musim lalu, namun Arshavin-Chamakh-Nasri are so much more fluid than Arshavin-RvP-Nasri. RvP sering terlihat tidak fasih bermain di left flank. Sedangkan Chamakh, he is a complete package. Speed, positioning, pace, responsibility, finishing, passing, aerial ability, he has it all. Sering kali Chamakh mundur untuk merebut possession kembali. Belum lagi perpindahan posisi dia dari tengah ke wide area saat arsenal melakukan counter attack. It’s amazing to see a new player connected really well with the team. Gol Chamakh menjadi bukti kerja sama luar biasa dia dengan Wilshere.

Hal paling signifikan adalah aerial ability dari Chamakh. Benar memang Chamakh tidak mencetak gol dengan kepala kali ini, namun dengan kualitas heading yang dia tunjukkan selama ini, cukup membuat pemain Braga menjaga ketat Chamakh saat arsenal menyerang melalui bola atas. Hasilnya, Fabregas dapat free header. Setelah Vermaelen dapet persaingan dari Squillaci, kali ini giliran RvP yang harus bersaing ketat dengan Chamakh. Not to mention, Walcott also has to fight for his place back from Nasri.

Tapi semua itu tidak akan berjalan lancar tanpa skipper Arsenal. Fabregas is, again, at his best. 2 goals, 2 assists, game maker, defending well, unselfish. How can you ask for more from him? He was literally all over the place. Saat Braga melakukan quick counter dan Clichy masih out of position, Fabregas fought really hard on the left flank sejauh 30-40 meter. Hasilnya, umpan yang sangat tidak terarah dari winger Braga. Tiap kali Wilshere, Song, Arshavin, Chamakh atau Nasri memegang bola, Fabregas hampir selalu ada di sekitar mereka. Constantly giving threats in the box dan, of course, his greatest gift, brilliant pass and vision, membuat Arsenal pesta gol. Kedua gol Fabregas, which btw his 49th and 50th goal in arsenal, memang prosesnya biasa saja. Namun assist dia ke Arshavin adalah hasil dari kerja keras yang luar biasa. He made it looked so easy. Dan untuk assistnya ke Vela, Fabregas sebenarnya bisa saja mencetak gol sendiri dan mencetak hat-trick, but he chose to pass it to Vela who was in a better position. That was a wonderful moment for the team.

Denilson dan Vela masuk di menit 63. Pergantian yang sangat tepat. Ini kejadian penting karena di 27 menit terakhir, Arsenal bermain tanpa Chamakh dan Song. Dua elemen penting yang masih irreplaceable di arsenal. Ditambah mental Braga yang jelas sudah drop, jadi pergantian ini tidak beresiko sama sekali. Vela kembali membuktikan ketajamannya di kotak penalty. 2 peluang, 2 gol, 27 menit. Pretty amazing, eh? Denilson mengganti Song jelas memberikan amunisi baru di tengah. With Squillaci and Koscielny played really strong at the back, kelemahan fisik Denilson jadi bisa lumayan tertutupi. Eboue came in at the last 20 mins. He didn’t do much, but he contributed much at Vela’s goal celebration. Memasukkan Eboue juga secara presence membantu defense arsenal karena Wilshere, Fabregas dan Nasri sudah terlihat sangat kecapaian.

Overall, this is a very fantastic, if not flawless, display by Arsenal. They are still on the unbeaten run, keeps hitting big number on the score sheet, and no additional injury. Keep it up, then we’ll have a big feast by the end of this season.

September 11, 2010

Arsenal 4 – 1 Bolton, when beautiful football meet american football

Category: Review — henry4life @ 11:22 am

Arsenal’s starting line-up

Almunia-Eboue-Squillaci-Koscielny-Gibbs-Song-Wilshere-Fabregas-Arshavin-Rosicky-Chamakh

Keputusan yang cukup menarik karena Wenger memilih untuk mengistirahatkan Sagna, Clichy dan Diaby di saat Vermaelen, van Persie dan Walcott mengalami cedera. Mungkin karena Eboue dan Gibbs mempunyai fisik yang slightly lebih kuat dibanding Sagna dan Clichy? As for Wilshere, jelas Wenger ingin memanfaatkan pengalaman Wilshere di Bolton musim lalu.

Yang lumayan menarik, Bolton tidak bermain pasif di awal babak pertama. Justru Bolton sempat membuat beberapa flowing pass ke depan. Beruntunglah kuartet lini belakang arsenal yang sama sekali bukan pemain inti arsenal musim lalu berhasil bermain dengan solid dan kompak. Yang lumayan membedakan partnership Koscielny-Squillaci dengan Koscielny-Vermaelen atau Gallas-Vermalen, Koscielny and Squillaci tend to sit at the back and not going forward unless it’s a corner kick. Poin plus di sini, Eboue dan Gibbs bisa lebih bebas untuk maju. On the downside, Song harus lebih sabar untuk main di belakang untuk mencegah pertahanan Arsenal di outnumbered saat Bolton menyerang balik. Another downside, Arsenal jadi lebih sering memulai serangan dari samping. Strategi seperti ini membutuhkan kreator yang luar biasa di tengah.

Di sini peran Fabregas muncul. Walaupun banyak beredar isu negatif tentang Fabregas, the skipper still appeared to play with his heart for arsenal. Excellent run, beautiful pass, brilliant vision, Fabregas betul-betul membuat penyerangan Arsenal menjadi satu kesatuan. Wilshere had a quiet game, but he connected very well with Fabregas. Karena di babak 1, Wilshere dan Fabregas harus bermain dengan kompak untuk membantu Song saat defense dan naik dengan cepat saat offense.

Poin paling menarik di sini ada di trio lini depan. Arshavin-Chamakh-Rosicky hampir mendekati partnership Henry-Pires. Yang mana dulu Pires started wide tapi sering melakukan cut-in dan Henry started at the front tapi seringkali menguasai sisi kiri lapangan. Terlihat beberapa kali Chamakh berada di sisi kiri dan Arshavin justru ada di dalam kotak 16. Tim papan tengah seperti Bolton cenderung melakukan man mark kebanding zonal marking. Jadi, perpindahan posisi seperti ini jelas membuat pertahanan Bolton kelabakan. Role Chamakh seperti ini yang hampir tidak pernah di perlihatkan Arsenal semenjak Henry meninggalkan Arsenal. Adebayor, van Persie, Bendtner, Eduardo belum ada yang bisa bermain di role seperti ini sebaik Chamakh. Then, when it’s least expected, Chamakh bisa masuk ke kotak 16 dan memberi aerial advantage untuk Arsenal.

Rosicky mungkin tidak terlihat seaktif Arshavin karena memang posisinya lebih di belakang dibanding Arshavin. Tapi, permainan menusuk ke dalam Rosicky jelas sangat klop dengan gaya main Eboue yang cenderung maju melebar. Yang berarti, saat arsenal menyerang, Fabregas, Wilshere dan Rosicky menguasai sektor tengah, Eboue berada di wide right flank, Arshavin dan Chamakh rotasi posisi, dengan backup Gibbs di wide left flank.

Di babak kedua, ada dua kejadian menarik yang menjadi poin plus untuk Arsenal. Kartu merah Cahill (which btw was a very harsh decision) dan cedera Diaby (which btw, the tackler should’ve gotten the red card). Pelanggaran Cahill itu bukan pelanggaran yang pantas diganjar kartu merah, dan lagipula, itu bola keuntungan Arsenal. On the other hand, tackle Bolton ke Diaby itu baru termasuk kategori pelanggaran kasar. So, Bolton was down with 10 men, and they lost Cahill, who is the heart of Bolton’s defense.

What about Diaby? So, when Bolton down to 10 men, it appeared that Wenger asked Song to play as a breaker instead of his normal position as the anchor man. Setelah melihat “Pires-Henry” di lini depan, role Song setelah kartu merah Cahill kembali mengingatkan saya dengan role Vieira. Malahan, seringkali Song maju higher than Fabregas. Hasilnya tidak buruk sama sekali. 1 peluang heading dan 1 gol. Dengan Fabregas-Song-Rosicky berdiri sejajar di belakang Arshavin-Chamakh, jelas tidak mungkin Diaby bisa bertahan dari serangan balik Bolton. Belum lagi cara main Diaby yang cenderung membawa bola sendiri ke depan, yang jelas akan meninggalkan lubang yang besar di sektor belakang.

Then, here comes the statsman, Denilson. Denilson tidak usah khawatir dengan perlawanan fisik dari Bolton because he did not give them a chance, not a chance. Dalam kurun waktu 5 menit, mungkin Denilson sudah melancarkan complete pass more than anybody in the team, except for Fabregas maybe. Mungkin benar complete passes Denilson tidak mengancam gawang Bolton, but he simply maintained the possession. And possession is the base of Arsenal’s offense. Dengan memainkan simple pass dengan Fabregas atau Rosicky, mereka memberi kesempatan pemain lain untuk mencari ruang dan posisi yang tepat.

Bukti paling nyata, ada di gol Vela. Permainan possession di tengah, berakhir dengan lob Fabregas ke Vela, and Vela finished it well. Empat pemain belakang Bolton sama sekali tidak ada yang berada di posisi mencegah running ball ke Vela. Karena sebelumnya, Chamakh cenderung ada di luar saat seperti ini, dan sekarang Vela ada di antara 2 bek tengah Bolton.

Masih ada beberapa hal yang bisa di kritik seperti blunder Koscielny atau Arshavin yang harusnya bisa mencetak hat-trick di babak pertama, but their misses got paid off with their overall performance. Selain 1 blundernya, Koscielny benar-benar bermain tanpa cacat. Positioning, aerial threat, clearance, semuanya berhasil di maintain dengan baik oleh Koscielny. Arshavin juga despite of his misses, tapi benar-benar menjadi main threat di zona pertahanan lawan. On top of that, he contributed with 1 assist.

Outside the match, ini benar-benar poin krusial karena MU, MC dan Spurs semuanya berakhir imbang dengan lawan yang di atas kertas harusnya berhasil mereka menangkan. Jadi, dengan banyaknya pemain inti yang cedera, title contender lain (selain Chelsea) berakhir imbang, kemenangan besar ini menjadi big leap untuk arsenal. Konsistensi seperti ini yang harus di pertahankan jika Arsenal ingin berada di posisi pertama EPL di akhir musim.

December 1, 2009

8 Menang, 1 Seri, 4 Kalah

Category: Review — henry4life @ 12:06 pm

7 poin di 5 pertandingan terakhir. Bukan pencapaian yang baik untuk tim sekelas arsenal. Untuk pertama kalinya arsenal di tahan imbang di liga musim ini, dan untuk kedua kalinya arsenal mengalami 2 kekalahan beruntun. Di sini saya ingin mencoba mereview pertandingan EPL arsenal musim ini, saat mereka kehilangan poin.

1. vs Manchester United (A) – Kalah 1-2
Almunia – Sagna – Vermaelen – Gallas – Clichy – Song – Cesc – Diaby – Eboue – Van Persie – Arshavin

Selain Diaby dan Eboue, pemain lainnya adala skuad inti arsenal. Bermain di kandang. 3 poin adalah kewajiban jika arsenal benar-benar serius ingin memenangi EPL musim ini. Sampai akhir babak pertama, semua berjalan dengan rencana. Arsenal menguasai possession, MU bermain pasif, Arshavin mencetak gol.

Bencana di mulai di babak kedua. Almunia mengambil keputusan yang salah. Saat Gallas masih mendominasi man to man dengan Rooney, Almunia memilih untuk “ikut andil” menjaga pertahanan arsenal. Hasilnya, penalty. Diving or not, MU tetep berhasil menyarangkan bola ke gawang Almunia. Satu gol mungkin acceptable. Karena kita semua tau betapa rapuhnya pertahanan arsenal. Sayang beberapa menit kemudian kembali terjadi “kesialan” di pertahanan arsenal. A very unnecessary own goal dari Diaby. Skor pun bertahan sampai habis.

Final thought: Arsenal harusnya bisa menang di sini. Mendominasi permainan, good final ball, sayang harus kalah dengan 2 blunder yang sangat fatal.

2. vs Manchester City (A) – kalah 2-4
Almunia – Sagna – Vermaelen – Gallas – Clichy – Song – Cesc – Diaby – Bendtner – Van Persie – Arshavin

Tidak ada pergantian yang signifikan. Mengganti Eboue dengan Bendtner. Kebobolan cepat di bola atas (which we thought already solved by hiring vermaelen). Kalah di lini tengah.

De Jong – Barry bermain sangat bagus. Fabregas benar-benar di kunci mati. Tumpuk pemain di tengah. Kunci Fabregas. Arsenal selesai. Di tambah dengan absennya Denilson, arsenal tidak bisa memberikan penyerangan yang efektif.

Final thought: Arsenal pantas kalah. City menggunakan strategi yang tepat untuk mengalahkan arsenal. Satu-satunya hal baik di sini adalah Tomas Rosicky. Debut 1 assist dan 1 goal. Welcome back Tomas!

3. vs West Ham United (A) – seri 2-2
Mannone – Sagna – Vermaelen – Gallas – Clichy – Song – Fabregas – Diaby – Eboue – Van Persie – Arshavin

Semuanya terlihat mudah di babak pertama. Sampai HT arsenal masih mendominasi pertandingan. Sekilas terlihat arsenal akan mengulangi pesta gol mereka seperti saat mereka menggilas everton di pertandingan pembuka EPL.

Namun yang terjadi di second half ternyata adalah kebalikannya. Arsenal terlihat bermain santai. Tidak ada penetrasi seperti di babak pertama. Possession gampang hilang. Zola dengan jeniusnya memasukkan Diamanti. Mungkin Diamanti bukan pemain hebat yang bisa memberikan perubahan yang berarti. Tapi Diamanti cukup memberikan pressure ke pertahanan arsenal. Menyebabkan garis arsenal mundur pelan-pelan. Saat itu terjadi, gol tinggal menunggu waktu. Dan benar saja 2 gol akhirnya bersarang ke gawang Mannone. Kemenangan mudah, menjadi 2-2.

Final thought: Arsenal masih belom belajar dari kesalahan musim lalu. Keep pressing. Jika melihat permainan babak pertama, arsenal harusnya menang di sini. Tapi klo melihat pertandingan secara keseluruhan, arsenal cukup beruntung tidak terbalap 2-3.

4. vs Sunderland (A) – kalah 0-1
Almunia – Sagna – Vermaelen – Gallas – Traore – Song – Ramsey – Cesc – Nasri – Eduardo – Rosicky

Gambaran musim lalu. A lot of possession, main cantik, no final ball. Kita semua tau main cantik saja tidak akan memberikan poin di hasil akhir. Rosicky, Nasri, Eduardo semuanya punya passing yang bagus. Tapi tidak ada yang berani melepas tendangan ke gawang.

Final thought: Harusnya seri. Tapi kita semua tau arsenal musim ini selalu kebobolan walaupun sedang mendominasi.

5. vs Chelsea (H) – kalah 0-3
Almunia – Sagna – Vermaelen – Gallas – Traore – Song – Cesc – Denilson – Nasri – Eduardo – Arshavin

Ini kekalahan yang paling menyakitkan. Bukan hanya karena ini kekalahan terbesar musim ini. Bukan hanya karena ini kekalahan di kandang musim ini. Tapi karena Chelsea benar benar mendominasi pertandingan, dan tidak ada yang bisa di lakukan arsenal untuk mengatasinya.

Chelsea kurang lebih menggunakan taktik yang sama dengan City. Tumpuk pemain di tengah, kunci Fabregas. Betul memang sekarang ada Denilson, tapi Denilson ternyata masih kalah dengan chelsea. Essien-Mikel menutup rapat barisan tengah arsenal, Lampard konstan bergerak memberi tekanan, Terry-Carvalho sangat sangat solid.

Yang lebih menyakitkan, saat kita semua merasa Vermaelen-Gallas sudah sangat bisa di andalkan, ternyata masih belum cukup untuk menahan Anelka-Drogba. Sagna kalah dengan Ashley Cole. Eduardo selalu gagal mengamankan bola lebih dari 3 detik.

Final thought: well deserved.

So, apa masalah arsenal sebenarnya? Injury? Gak juga. Defense kita inti mines Clichy. Tapi masalah bukan datang dari sisi Traore, jadi tidak bisa menyalahkan Gibbs/Clichy. Bendtner atau Diaby? Mereka main pun selalu di hujat, sekarang menyalahkan absennya mereka atas kekalahan ini? Lame excuse. Van Persie? Mungkin ini yang paling masuk akal. Tapi kita semua tau Van Persie itu injury prone. Jadi kenapa kaget mendengar kabar van persie cedera? Atau klo mau perumpamaan lebih buruk, klo kita bener-bener bergantung sama van persie, we are no better than liverpool.

Menurut saya sendiri, semua masalah itu pasti berawal dari belakang. Gallas terlihat terlalu di paksakan di umurnya yang sudah tidak muda lagi. Dan sektor yang paling penting mungkin kiper. Tidak ada kesalahan yang spesifik dari Almunia. Tapi kiper itu adalah mata para bek. Kiper bisa melihat semua pergerakan lawan. Harusnya Almunia bisa memberi instruksi lebih baik lagi ke para pemain belakang. Sekarang saya mulai merasa klo arsenal butuh seorang kiper klo memang ingin serius juara. Fabianski, Mannone, mereka no doubt kiper bagus. Tapi potentially bagus. Gak bisa di gunakan sekarang dan bergantung ke mereka untuk menahan gempuran pemain lawan. Yes, Mannone has done that against Fulham. Tapi apa Mannone bisa tetep begitu klo yang nyerang Anelka, Drogba, Bent, Rooney, Defoe, Bellamy? Dont think so.

Chamakh, Gignac dan Henry. Tiga pemain ini terdengar di bursa transfer akan di boyong arsenal dengan status permanen atau pinjaman januari ini. Menurut saya sendiri itu tidak terlalu penting. Membeli tidak selalu menyelesaikan masalah. Ambil contoh MU. Menjual Ronaldo, membeli Owen. Masalah tetap ada. Tapi Ferguson cukup pintar untuk mengubah strateginya jika pembeliannya gagal. Contoh paling konkrit ada di Liverpool. Xabi keluar, beli Aquilani? Sama sekali tidak menyelesaikan masalah. Maka saya tarik kesimpulan klo Chamakh, Gignac atau Henry di beli atas dasar mengganti Van Persie, trust me, it’s not gonna work.

Solusi terbaik sekarang adalah memperbaiki kinerja lini belakang, entah bagaimana caranya. Lalu mencoba mengubah pakem 4-3-3 ke 4-4-2. Atau apa pun itu yang menggunakan pakem 2 striker. Karena Bendtner, Eduardo, Vela mereka semua striker bagus. Tapi harus bermain dengan 2 striker klo mau mengeluarkan kemampuan terbaik mereka. Arshavin bisa di pasang jadi playmaker di formasi 4-3-1-2 dengan tetap menggunakan Fabregas-Song-Denilson di belakang. Masih ada Nasri dan Rosicky yang serba bisa.

AW knows it better. Rabu ini melawan City, saya tidak mengharapkan perubahan instan seperti itu. Carling tetap harus menjadi ajang para young guns. Tapi minggu depan, melawan Stoke City. Walaupun tim kecil, tapi Sorensen bermain cukup baik belakangan. Mereka bisa menggunakan strategi yang sama seperti Sunderland untuk membungkam arsenal. Ini merupakan pemanasan yang tepat sebelum ajang melawan liverpool

November 16, 2009

Robin van Persie Rise and Fall

Category: Player news — henry4life @ 7:12 pm

Tough breaks: Van Persie’s record
*previous injury problems

Jan 06: Broken toe. One month out.
Jan 07: Broken metatarsal. Season.
Oct 07: Twisted knee. Two months.
Jan 08: Thigh strain. Two months.

*games van persie could miss
Sunderland PL (a) , Standard Liège CL (h), Chelsea PL (h), Manchester City LC (a), Stoke City PL (h), Olympiakos CL (a), Liverpool PL (a), Burnley PL (a), Hull PL (h), Aston Villa PL (h).

*PL Premier League fixtures, CL Champions League, LC League Cup.
source

Saya bukan big fans pertandingan internasional. Satu-satunya timnas yang lumayan saya ikuti, cuma timnas Prancis. Maka tidak heran saya agak terlambat mengetahui berita cederanya Van Persie. Baru mulai tampil menggila semenjak bulan oktober, sekarang harus bergelut dengan musuh lama.

Hari minggu malam kemarin, saya lihat salah satu facebook link tentang cederanya Van Persie (cukup aneh, mengingat saya biasanya mengetahui berita langsung dari artikel-artikel arsenal :P ). Di link itu diberitakan bahwa Van Persie akan cedera kurang lebih selama 3 bulan (berita berikutnya di revisi bahwa van persie akan absen sekitar 1 setengah bulan). Lebih anehnya lagi, tidak ada perasaan kesal atau kecewa yang berlebih saat mengetahui berita itu. Di saat fans arsenal lainnya mulai mengumpat Chiellini karena tacklenya, saya justru tidak terlalu kaget dengan berita ini.

Jujur, saya jauh lebih kaget saat mendengar berita Nasri dan Denilson cedera. Bukan. Bukan karena Denilson atau Nasri lebih penting dari Van Persie. Menurut saya semua pemain arsenal itu penting. Tidak ada yang lebih penting daripada yang lainnya. Well, mungkin Vermaelen untuk saat ini, tapi itu bukan poin saya. Poin saya adalah seorang Robin van Persie memang bisa dibilang ‘injury prone’ yang artinya gampang cedera.

Di awal post ini saya melampirkan statistik cedera Van Persie. Sudah 4 kali dia cedera yang menyebabkan dia harus absen at least selama 1 bulan. Jadi, kenapa harus heran klo Van Persie kena cedera 2 bulan musim ini? Ini bukan berarti kita berharap Van Persie cedera. Tapi kita harusnya sudah mengantisipasi hal ini. Sama halnya dengan Rosicky. Absen 1 setengah taun, Rosicky berubah role dari main attacking midfielder, jadi pemain yang “hanya” menjadi pemain yang sering di rotasi.

Terlebih lagi, saat saya melihat sendiri tayangan ulang tackle Chiellini ke Van Persie. Itu 100 persen tackle bersih dari Chiellini. Justru saya terkagum-kagum dengan kelebihan Chiellini melakukan tackling yang sangat beresiko. Entah Van Persie yang memang jatuhnya salah, atau posisi kaki yang salah saat melepas tendangan.

Sekarang, saya rasa Arsene Wenger sudah mengantisipasi hal ini dari awal musim. Dengan formasi 4-3-3, pilihan Wenger tetap banyak untuk membahayakan lini belakang lawan. Walcott mulai sembuh, Nasri sudah fit, Rosicky sudah fit, Eduardo fit dan baru mencetak 2 gol untuk Kroasia, Vela mulai sembuh, Arshavin tetap bisa diharapkan seperti biasa. Idealnya, memang Walcott-Eduardo-Arshavin yang akan mengisi trisula arsenal. Saya yakin kebanyakan orang akan memikirkan hal yang sama. Saya pun berpikir demikian jika saya tidak menonton pertemuan kedua melawan AZ.

Di match itu Wenger menunjukkan betapa fleksibelnya tim arsenal musim ini. Kita semua dibuat berpikir kalau Nasri atau Rosicky akan mengisi posisi CM yang selama ini di isi Denilson dan Diaby, atau mungkin mengisi posisi penyerang kanan yang selama ini di isi Bendtner atau Eboue. Think outside the box, kenapa tidak ubah formasi? 4-1-4-1 dengan memainkan Fabregas-Arshavin-Diaby-Nasri di depan Song dan di belakang Van Persie. Hasilnya sangat luar biasa.

Jadi dengan absennya Van Persie, Wenger bisa kembali memainkan 4-1-4-1 dengan Eduardo sebagai single striker tanpa memaksakan Walcott untuk segera main. Andai, semoga tidak terjadi, Eduardo pun harus mengalami nasib yang sama seperti Van Persie, Wenger masih mempunyai pilihan untuk memainkan Arshavin di depan sendiri. Kita semua saksi hidup apa yang bisa di lakukan Arshavin sendirian musim lalu. Single-handedly menghancurkan Liverpool. Walaupun badannya kecil, Arshavin bisa memaksimalkan semua kelebihannya untuk bermain sendiri di depan. Vela juga menunjukkan kemampuannya bermain sebagai striker murni. Atau mungkin, ini saatnya Wenger menepati janjinya untuk memainkan Walcott di depan? Atau mungkin, walaupun kecil kemungkinannya, Watt sudah siap bermain di level atas?

Jika kita lihat dari sudut pandang di atas, cedera van persie terlihat tidak ada apa-apanya. Sudah 3 tahun Arsenal mengalami masalah cedera. Wenger jelas sadar akan hal itu. No need to panic, Wenger sudah mengetahui solusinya.

November 12, 2009

Ujian untuk Young Guns di Carling Cup

Category: Preview — henry4life @ 3:49 pm

“It will be interesting, exciting and a good test,” he told Arsenal.com

“We will be faithful to our policy and of course put a team out who has a good chance to win the game.”

“If you call a full side 11 top players, then we will play a full side,” he said. “For me a full side means a team who has a chance to win any game.”

-Arsene Wenger-

source

Banyak yang menginterpretasikan komentar Wenger di atas sebagai tanda kalau Wenger akan menurunkan kekuatan terbaik Arsenal di match melawan City pada tanggal 2 Desember. Masuk akal, mengingat kans arsenal cukup besar untuk memenangi kejuaraan ini.

Dengan demikian, fans-fans arsenal yang sudah tidak sabar dengan puasa gelar arsenal akan terobati kekecewaannya.

Saya sendiri, mengartikan komentar Wenger di atas sebagai betuk keyakinan Wenger dengan pemain-pemain mudanya. Semua tim, bahkan tim sekelas Oxford United juga mempunyai peluang memenangkan pertandingan melawan Chelsea. Karena saat peluit kick off di tiup, skor untuk kedua tim adalah 0-0, yang berarti, keduanya mempunyai peluang 50-50 untuk memenangi pertandingan tersebut.

Pendapat saya pribadi, Wenger akan menurunkan tim yang tidak jauh beda dengan pertandingan melawan Liverpool beberapa minggu lalu. Mungkin dengan sedikit perbedaan, karena beberapa pemain masih cedera atau sudah fit untuk bermain di tim senior.

Sektor kiper mungkin masih menjadi tanda tanya. Dengan kembalinya Almunia menjadi kiper utama tim senior, perhitungan yang paling masuk akal adalah memakai Fabianski di partai ini. Fabianski sendiri masih bergelut dengan cedera, yang berarti Mannone dan Szczesny mempunyai peluang yang sama untuk menjaga gawang arsenal di partai ini. Bisa dibilang Mannone punya kans lebih besar, di tambah ini bisa menjadi ujian untuk Mannone jika dia ingin kembali “menganggu” posisi Almunia.

Pemain belakang. Gilbert-Senderos-Silvestre-Gibbs menjalankan tugasnya dengan baik saat melawan Liverpool. Gilbert-Gibbs terlihat aktif membantu serangan, tapi selalu kembali ke posisi bertahan mereka sebelum Liverpool sampai ke zona pertahanan arsenal. Bahkan Gilbert yang dibilang akan menjadi the weakest link, justru bermain sangat baik. Silvestre-Senderos, secara mengejutkan, ternyata berhasil berkerja sama dengan baik. Besar kemungkinannya arsenal akan tetap menggunakan formasi bertahan yang sama. Mungkin satu-satunya pemain yang akan di ganti adalah Gibbs. Mengingat Clichy sedang cedera, maka terjadi pergeseran “peringkat” di sektor bek kiri. Jka Traore fit, ini adalah kesempatan dia untuk menunjukkan dia juga sanggup bersaing untuk memperebutkan jatah bek kiri di tim senior.

Gelandang bertahan mungkin menjadi posisi yang paling menarik untuk dinanti. Dua nama yang paling besar kemungkinannya untuk menjadi gelandang bertahan di partai ini adalah Coquelin dan Eastmond. Secara statistik, Coquelin lebih pantas untuk “naik pangkat” lebih dulu. Gaya main yang persis dengan Denilson, pilar utama tim reserves, bermain baik melawan West Brom, sudah cukup untuk menjadi bukti kehebatannya. Sedangkan Eastmond, tergolong kategori exceptional. Posisi asli sebagai bek kanan, tiba-tiba di tunjuk menjadi starter di posisi gelandang bertahan saat melawan Liverpool beberapa minggu lalu. Penampilannya memang tidak bisa langsung di samakan dengan Song. Tapi untuk ukuran pemain muda yang baru menjalani debutnya dengan tim senior, dan langsung melawan tim sekelas Liverpool, Eastmond bermain sangat baik (did I mention that he wasn’t playing on his natural position?). Satu nama lagi yang mempunyai kans sama besarnya (atau sedikit lebih besar) untuk menjadi starter adalah Denilson. Kandidat utama sebagai pelapis Song di bulan Januari nanti ini akan sembuh setelah international break weekend ini.

Dua gelandang tengah, hampir di pastikan akan di isi Ramsey-Wilshere. Apalagi baru-baru ini Wilshere baru menyatakan keinginannya untuk bermain di partai melawan City.

Sektor depan. Kecil kemungkinannya, tapi jika Bendtner bisa sembuh dengan cepat, Bendtner hampir di pastikan akan mengisi 1 dari 3 slot di lini depan. Vela yang akan segera sembuh, juga bisa di pastikan akan mengisi sektor depan. Satu posisi lagi kemungkinan besar akan diisi Eduardo. Beberapa pemain yang mempunyai peluang untuk menggeser Bendtner atau Eduardo dari starting eleven adalah Sanchez Watt dan Gilles Sunu, atau malah, seperti kasus Eastmond, Wenger justru akan menurunkan debutan seperti Benik Afobe atau Roarie Deacon.

Siapa pun yang tampil, saya rasa peluang arsenal lebih dari 50 persen untuk memenangi partai ini. Tim muda arsenal tentunya akan bermain total dengan harapan dapat menembus tim utama. Sedangkan City? Mereka baru saja ditahan imbang Burnley 3-3 di kandang sendiri!!